Salah satu kesalahan berbahaya yang sering dilakukan penulis adalah terjebak "kecenderungan pada gaya yang sama" sehingga membuat tulisan terasa kurang kreatif.
Pada tips kepenulisan sebelumnya saya membahas tentang begitu banyaknya penulis yang menulis kata 'aku' berulang ulang dalam satu kalimat atau kata 'Anda, atau kata sama lainnya berkali-kali.
Ternyata, jika kita perhatikan lebih jauh, selain sering mengulang kata yang sama, penulis juga sering melakukan kesalahan yang sama karena ia sudah terjebak pada 'kecenderungan pada gaya yang sama."
Karena ini sudah masuk dalam alam tidak sadar dan menjadi style, kecenderungan memakai gaya yang sama ini akan dilakukan dan dilakukan lagi sehingga tulisan menjadi monoton.
Ada beberapa kecenderungan yang sering muncul (dari yang saya lihat di KBM) atau bahkan diri saya sendiri.
Kecenderungan memakai kata ulang
"Saya sudah berkali-kali mengatakan padanya untuk jangan pernah mencoba-coba untuk bermain main dengan keputusan saya."
Pada kalimat ini si penulis tanpa sadar punya kecenderungan memakai kata ulang dan juga memakai kata untuk sebagai penghubung.
Kecenderungan memakai kata sambung/ penghubung yang berulang
Ketika menulis artikel ini saya bahkan melakukannya, awalnya saya menulis:
Sampai disini bukan masalah, sampai kemudian ia melakukan gaya yang sama lagi (tanpa sadar memakai dua kata sampai)
lalu ketika mengedit saya mengubah:
Sampai disini bukan masalah, akan tetapi ia melakukan gaya yang sama lagi
Saya juga kembali melakukan kecenderungan yang sama dalam memakai yang ketika menulis artikel ini.
Awalnya saya menulis:
Salah satu kesalahan yang berbahaya yang dilakukan penulis adalah;
Ketika baca ulang, saya sadar saya terjebak pada 'kecenderungan pada gaya yang sama' dalam memakai 'yang'
maka akhirnya saya mengedit dan menulis:
Salah satu kesalahan berbahaya yang sering dilakukan penulis adalah (yang nya hilang satu)
Kesadaran akan kecenderungan ini membuat kita jadi aware.
Kecenderungan menggunakan penekanan
Saya pernah membaca salah satu karya yang disiapkan menjadi novel
Kalimatnya begini:
Mereka melewati kuil suci, kuil tempat diadakannya doa untuk acara-acara besar dan keadaan penting.
Sampai disini bukan masalah, akan tetapi ia (si penulis) melakukan gaya yang sama lagi
Penjaga menyiapkan senjata, senjata terbaik yang mereka punya.
Lalu ada kalimat lagi
Penduduk berlarian ke dalam lubang perlindungan, lubang yang memang disiapkan sejak lama .
Lihat kesalahannya. Si penulis cenderung mengulang kata untuk penekanan dari satu kalimat ke kalimat lainnya.
Setelah diteliti, dalam satu halaman saja ada belasan hal (gaya) yang sama yang dilakukannya.
Ada juga member dari KBM Tangerang yang cenderung pakai bukan - karena
Jadi gue udah bisa dipanggil anak Belantara. Bukan karena gue tinggal di hutan yang jauh dari peradaban kota, melainkan gue udah sah menjadi anggota Bengkel Langit Sastra.
dikalimat lain juga begitu
Dia diberi gelar “Garuda Idaman” oleh teman-teman sekelasnya. Bukan karena dia pandai terbang seperti burung garuda atau diharapkan menjadi pengganti lambang Republik Indonesia. Tapi karena dia adalah mahasiswa teraktif dikelasnya
Kasus ini sebenarnya sama dengan mengulang-ulang kata aku, saya, Anda dll, tapi dalam bentuk yang lebih kompleks.
Bayangkan saja dalam artikel yang sedikit ini saja saya melakukan kesalahan gaya monoton beberapa kali.
Nah tugas kita adalah menemukan kecenderungan kita dalam melakukan gaya yang sama, dan dengan menemukan kelemahan sendiri, kita tidak lagi terjebak pada gaya yang sama dan membuat penulisan menjadi monoton.
Sumber: KBM (Komunitas Bisa Menulis)/Isa Alamsyah Unknown Januari 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Pada tips kepenulisan sebelumnya saya membahas tentang begitu banyaknya penulis yang menulis kata 'aku' berulang ulang dalam satu kalimat atau kata 'Anda, atau kata sama lainnya berkali-kali.
Ternyata, jika kita perhatikan lebih jauh, selain sering mengulang kata yang sama, penulis juga sering melakukan kesalahan yang sama karena ia sudah terjebak pada 'kecenderungan pada gaya yang sama."
Karena ini sudah masuk dalam alam tidak sadar dan menjadi style, kecenderungan memakai gaya yang sama ini akan dilakukan dan dilakukan lagi sehingga tulisan menjadi monoton.
Ada beberapa kecenderungan yang sering muncul (dari yang saya lihat di KBM) atau bahkan diri saya sendiri.Kecenderungan memakai kata ulang
"Saya sudah berkali-kali mengatakan padanya untuk jangan pernah mencoba-coba untuk bermain main dengan keputusan saya."
Pada kalimat ini si penulis tanpa sadar punya kecenderungan memakai kata ulang dan juga memakai kata untuk sebagai penghubung.
Kecenderungan memakai kata sambung/ penghubung yang berulang
Ketika menulis artikel ini saya bahkan melakukannya, awalnya saya menulis:
Sampai disini bukan masalah, sampai kemudian ia melakukan gaya yang sama lagi (tanpa sadar memakai dua kata sampai)
lalu ketika mengedit saya mengubah:
Sampai disini bukan masalah, akan tetapi ia melakukan gaya yang sama lagi
Saya juga kembali melakukan kecenderungan yang sama dalam memakai yang ketika menulis artikel ini.
Awalnya saya menulis:
Salah satu kesalahan yang berbahaya yang dilakukan penulis adalah;
Ketika baca ulang, saya sadar saya terjebak pada 'kecenderungan pada gaya yang sama' dalam memakai 'yang'
maka akhirnya saya mengedit dan menulis:
Salah satu kesalahan berbahaya yang sering dilakukan penulis adalah (yang nya hilang satu)
Kesadaran akan kecenderungan ini membuat kita jadi aware.
Kecenderungan menggunakan penekanan
Saya pernah membaca salah satu karya yang disiapkan menjadi novel
Kalimatnya begini:
Mereka melewati kuil suci, kuil tempat diadakannya doa untuk acara-acara besar dan keadaan penting.
Sampai disini bukan masalah, akan tetapi ia (si penulis) melakukan gaya yang sama lagi
Penjaga menyiapkan senjata, senjata terbaik yang mereka punya.
Lalu ada kalimat lagi
Penduduk berlarian ke dalam lubang perlindungan, lubang yang memang disiapkan sejak lama .
Lihat kesalahannya. Si penulis cenderung mengulang kata untuk penekanan dari satu kalimat ke kalimat lainnya.
Setelah diteliti, dalam satu halaman saja ada belasan hal (gaya) yang sama yang dilakukannya.
Ada juga member dari KBM Tangerang yang cenderung pakai bukan - karena
Jadi gue udah bisa dipanggil anak Belantara. Bukan karena gue tinggal di hutan yang jauh dari peradaban kota, melainkan gue udah sah menjadi anggota Bengkel Langit Sastra.
dikalimat lain juga begitu
Dia diberi gelar “Garuda Idaman” oleh teman-teman sekelasnya. Bukan karena dia pandai terbang seperti burung garuda atau diharapkan menjadi pengganti lambang Republik Indonesia. Tapi karena dia adalah mahasiswa teraktif dikelasnya
Kasus ini sebenarnya sama dengan mengulang-ulang kata aku, saya, Anda dll, tapi dalam bentuk yang lebih kompleks.
Bayangkan saja dalam artikel yang sedikit ini saja saya melakukan kesalahan gaya monoton beberapa kali.
Nah tugas kita adalah menemukan kecenderungan kita dalam melakukan gaya yang sama, dan dengan menemukan kelemahan sendiri, kita tidak lagi terjebak pada gaya yang sama dan membuat penulisan menjadi monoton.
Sumber: KBM (Komunitas Bisa Menulis)/Isa Alamsyah Unknown Januari 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tips Menulis 10 : Kecenderungan Pada Gaya yang Sama
Posted by SURALAGA ONLINE on Senin, 04 Januari 2016
Dulu sekali, saya membaca sebuah cerpen di Kompas. Kisahnya tentang seorang pemuda yang mau pergi haji.Tiket sudah siap, visa sudah keluar, koper dan kebutuhan lain sudah lengkap. Pokoknya tinggal beragkat.
Tapi ada yang membuat ia risau. Ayahnya sakit keras dan tidak mau terpisah dengannya walau sehari saja. Ia anak tunggal, sekalipun ada perawat atau pembantu, kehadirannya tidak tergantikan.
Singkat cerita ia selalu mencari cara agar ada bisa meninggalkan ayahnya dengan tenang untuk pergi haji, doa pun tak lepas dari keseharian.
Suatu hari ada keramaian di depan rumah sang pemuda. Tetangga sibuk memasang tenda dan menggelar kursi-kursi plastik. Bendera kuning dipasang diujung jalan dan di pagar rumah. Ambulan datang dan keranda pun masuk dan sesosok tubuh tanpa nyawa dipindahkan ke persemanyaman.
Sepasang mata menangis, air mata tak kunjung berhenti. Seorang ayah, tua, yang sakit keras, menangis menatap anaknya yang terbujur mati, karena sebuah kecelakaan. Pemuda itu mati sebelum sempat pergi haji.
***
Saat itu saya mengira akhirnya masalah terseselaikan karena ayahnya meninggal, seolah Allah memberinya kemudahan. Ternyata endingnya yang mati adalah sang anak yang kecelakaan sebelum pergi haji.
Kalau dianalisa, nampaknya si penulis sudah berencana demikain sejak awal. Si penulis memang ingin membuat si anak yang mati, tapi ia membuat jebakan-jebakan. detail bahwa anaknya sehat bapaknya sakit keras, detail yang membuat pembaca berharap si anak pergi haji, dan memberikan banyak detail yang membuat kita percaya bahwa si ayah sakit keras akan meninggal dalam waktu singkat. Jadi sudah disiapkan berbagai jebakan yang masuk akal, dan akhirnya pembaca tertipu dan kaget dengan endingnya.
Beberapa hari lalu saya juga terima BBM iseng.
Biasa lah, kita semua sering menerima broadcast kocak kan dari teman-teman di BBM?
Anggap saja saat ini kamu terima bbm dan membaca pesan ini":
"Mari kita belajar bahasa Mandarin 'Fresh and Fun.' And pasti bisa dalam 1 menit.
Tidak izin : Lu lan chang
Tidak setia : Lu she rong
Badan gede : Lu king kong
Tidak sopan : Lu sin chan
Tidak tahu diri : Lu xia lan
Yang norak : Wong kam fung
Yang jago : Wong fei hung
Yang suka BBM : Wong san thai
Yang suka ngerjain : Wong ie sheng
Yang banyak duit : Wong Zhu Gieh
Yang ngirim BBM : Wong khe ren..
Yang baca bbm : Wong nganggur
Ketika pesan ini dibuat sejak awal yang ngarang ingin bilang 'saya yang ngirim bbm orang keren' dan 'kamu yang baca bbm orang nganggur', tapi si pengarang membuat jebakan seolah-olah ini sekedar lucu-lucuan tapi ada serangan tak terduga ada di akhir.Kalau yang baca BBM sampai ngomong dalam hati: rese, sialan, konyol, itu berarti jebakannya berhasil.
Asma Nadia juga menerapkan ini dalam beberapa cerpennya, tidak semua, karena memang tidak semua cerpen harus memakai teknik ini.Tapi kalau kita membaca cerpen Ibu Pergi Sebulan (di buku kumpulan cerpen Ummi), atau Meminang Bidadari, teknik ini dipakai.
Nah sekarang kalau kamu mau meningkatkan kemampuan menulis dan membuat cerita coba buat jebakan dalam karya. Kalau berhasil maka endingnya jadi tidak terduga dan pembaca puas kalau tertipu.
Rumusnya
Saya mau endingnya A tapi saya maunya pembaca mengira B karena itu saya beri sedikit clue (petunjuk/lanjaran) tentang A tapi memberi banyak jebakan yang membuat percaya akan terjadi B, Setelah endingnya ternyata A, pembaca tertipu tapi berkata oh iya ya ada detail kecil yang saya luput.
Selamat mencoba!
Sumber : KBM (Komunitas Bisa Menulis), Isa Alasyah Unknown Januari 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Tapi ada yang membuat ia risau. Ayahnya sakit keras dan tidak mau terpisah dengannya walau sehari saja. Ia anak tunggal, sekalipun ada perawat atau pembantu, kehadirannya tidak tergantikan.
Singkat cerita ia selalu mencari cara agar ada bisa meninggalkan ayahnya dengan tenang untuk pergi haji, doa pun tak lepas dari keseharian.
Suatu hari ada keramaian di depan rumah sang pemuda. Tetangga sibuk memasang tenda dan menggelar kursi-kursi plastik. Bendera kuning dipasang diujung jalan dan di pagar rumah. Ambulan datang dan keranda pun masuk dan sesosok tubuh tanpa nyawa dipindahkan ke persemanyaman.
Sepasang mata menangis, air mata tak kunjung berhenti. Seorang ayah, tua, yang sakit keras, menangis menatap anaknya yang terbujur mati, karena sebuah kecelakaan. Pemuda itu mati sebelum sempat pergi haji.
***
Saat itu saya mengira akhirnya masalah terseselaikan karena ayahnya meninggal, seolah Allah memberinya kemudahan. Ternyata endingnya yang mati adalah sang anak yang kecelakaan sebelum pergi haji. Kalau dianalisa, nampaknya si penulis sudah berencana demikain sejak awal. Si penulis memang ingin membuat si anak yang mati, tapi ia membuat jebakan-jebakan. detail bahwa anaknya sehat bapaknya sakit keras, detail yang membuat pembaca berharap si anak pergi haji, dan memberikan banyak detail yang membuat kita percaya bahwa si ayah sakit keras akan meninggal dalam waktu singkat. Jadi sudah disiapkan berbagai jebakan yang masuk akal, dan akhirnya pembaca tertipu dan kaget dengan endingnya.
Beberapa hari lalu saya juga terima BBM iseng.
Biasa lah, kita semua sering menerima broadcast kocak kan dari teman-teman di BBM?
Anggap saja saat ini kamu terima bbm dan membaca pesan ini":
"Mari kita belajar bahasa Mandarin 'Fresh and Fun.' And pasti bisa dalam 1 menit.
Tidak izin : Lu lan chang
Tidak setia : Lu she rong
Badan gede : Lu king kong
Tidak sopan : Lu sin chan
Tidak tahu diri : Lu xia lan
Yang norak : Wong kam fung
Yang jago : Wong fei hung
Yang suka BBM : Wong san thai
Yang suka ngerjain : Wong ie sheng
Yang banyak duit : Wong Zhu Gieh
Yang ngirim BBM : Wong khe ren..
Yang baca bbm : Wong nganggur
Ketika pesan ini dibuat sejak awal yang ngarang ingin bilang 'saya yang ngirim bbm orang keren' dan 'kamu yang baca bbm orang nganggur', tapi si pengarang membuat jebakan seolah-olah ini sekedar lucu-lucuan tapi ada serangan tak terduga ada di akhir.Kalau yang baca BBM sampai ngomong dalam hati: rese, sialan, konyol, itu berarti jebakannya berhasil.
Asma Nadia juga menerapkan ini dalam beberapa cerpennya, tidak semua, karena memang tidak semua cerpen harus memakai teknik ini.Tapi kalau kita membaca cerpen Ibu Pergi Sebulan (di buku kumpulan cerpen Ummi), atau Meminang Bidadari, teknik ini dipakai.
Nah sekarang kalau kamu mau meningkatkan kemampuan menulis dan membuat cerita coba buat jebakan dalam karya. Kalau berhasil maka endingnya jadi tidak terduga dan pembaca puas kalau tertipu.
Rumusnya
Saya mau endingnya A tapi saya maunya pembaca mengira B karena itu saya beri sedikit clue (petunjuk/lanjaran) tentang A tapi memberi banyak jebakan yang membuat percaya akan terjadi B, Setelah endingnya ternyata A, pembaca tertipu tapi berkata oh iya ya ada detail kecil yang saya luput.
Selamat mencoba!
Sumber : KBM (Komunitas Bisa Menulis), Isa Alasyah Unknown Januari 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Pernahkan kamu menonton film atau membaca cerita, yang dalam cerita itu tokoh utamanya menderita, tapi kamu tidak ikut sedih?Atau kamu melihat tokoh penting dalam cerita itu mati tapi kamu tidak merasa kehilangan?
Atau tokoh dalam film atau buku meraih prestasi gemilang, tapi tidak ikut gembira?
Jangan khawatir, itu bukan karena kamu tidak punya perasaan.Besar kemungkinan, itu terjadi karena si penulis cerita atau pembuat film gagal merebut hati penonton atau pembacanya.
Build Connection between Story and The reader
Membangun hubungan, koneksi, antara penulis dan pembaca sangat penting.Penulis yang sukses adalah penulis yang mampu membuat tokoh dalam ceritanya menjadi bagian dari pembaca.Jika pembaca mulai marah pada karakter, ikut sedih melihat penderitaan tokoh pada cerita, maka berarti karya tulis, cerpen, novel atau film tersebut sudah sukses.
Baik fiksi atau non fiksi, ikatan emosional dan koneksi antara isi buku terhadap pembaca, tetap penting.
Misalnya pada buku non fiksi:
Ketika membaca Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia, banyak testimoni pembaca yang mengatakan air matanya menetes tanpa mereka sadari, bahkan ada yang tersedu-sedu. Ini menujukkan terbangun koneksi antara tulisan dan emosi pembaca.
Dalam beberapa testimoni buku No Excuse! karya Isa Alamsyah ada yang mengatakan mereka seperti ditampar-tampar hanya membaca beberapa halaman pertama. Emosi mereka meluap dan marah ketika membaca ulasan tentang Indonesia di buku No Excuse. Ada yang bilang penasaran atas semua kisah sampai malas bangun dari duduknya. Berarti terbangun emosi dan koneksi.
Ketika membaca buku Think Dinar karya Endy Kurniawan, ada yang merasa bodoh sekali selama ini dan baru sadar atas kebodohannya setelah baca buku Think Dinar. Sampai ada yang sambil baca berujar dalam hati "Brengsek, brengsek, brengsek (kok gue bodoh amat ya selama ini)." Berarti buku ini berhasi membangun koneksi dengan pembaca dan berhasil menumbuhkan kesadaran pembaca.
Ketika baca buku terbaru Asma Nadia, Salon Kepribadian Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, banyak muslimah yang tertawa-tawa (menertawakan diri sendiri) setelah sadar akan kesalahan dan kebiasaan buruknya masing masing, padahal sebelum baca buku ini dia tidak menyadari ini sebagai kesalahan penting. "Nih gue banget, ya" Berarti buku ini berhasil membangun koneksi.
Contoh lain di buku fiksi.
Coba baca cerpen-cerpen di buku Ummi atau cerpen-cerpen pada buku Sakinah Bersamamu karya Asma Nadia. Ada cerpen yang membuat kita tertawa, haru, menangis, tersentuh, dan semua itu menujukkan bahwa cerpen tersebut berhasil menciptakan emosi.
Ide tulisan ini muncul setelah saya membaca dan melihat begitu banyak karya yang dikirimkan di Komunitas Bisa Menulis, gagal total dalam menciptakan ikatan emosi.Ada tokoh si-aku yang digambarkan sangat menderita - tapi ketika baca saya malah kesal dengan si-aku yang lebih mirip complainer dan tukang keluh kesah. Saya bukan simpati pada tokoh malah benci. Berarti penulisnya gagal membangun hubungan antara saya sebagai pembaca dan tokoh utama dalam cerita.
Nah sekarang itu tantangan buat kita semua yang mau menulis, baik fiksi atau non fiski. Mampukah kita membuat pembaca terikat secara emosional ataupun intelektual dengan tulisan kita.
Di dunia ini banyak perubahan terjadi karena buku yang mempengaruhi pembacanya.Di masa lalu bahkan ada buku yang mengubah dunia menjadi jauh lebih buruk.Buku The Prince Karya Machiavelly yang dibuat tahun 1400-an mengajukan ide sederhana tentang kekuasaan. Intinya kekuasaan hanya bisa bertahan jika menggunakan kekerasan. Buku ini dibaca oleh Hitler, Stalin, Musolini, dan Mao Tse Tung dan lihat hasilnya. Mereka semua menggunakan kekerasan dalam memimpin (Tentang kekejaman itu nanti sekilas bisa dibaca di buku Agung Pribadi yang akan segera terbit nanti, terkait dengan catatan sejarah yang bisa membangkitkan motivasi). Terlepas kita tidak setuju dengan ide The Prince tersebut, tapi kenyataannya buku ini berhasil membangun emosi dan mempengaruhi pikiran orang. Sebagai sebuah karya tulis itu berarti berhasil.
Kini tugas kita, orang yang peduli pada kebaikan, dan kebenaran dan ingin menyampaikannya dalam bentuk tulisan.Buatlah seruan kebaikan baik dalam bentuk fiksi ataupun non fiksi dengan cara yang bisa mengikat emosi dan intelektual, sehingga menghasilkan daya perubahan yang lebih besar.
Selamat Menulis.
Sumber: KBM (Komunitas Bisa Menulis) Unknown Januari 04, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Memilih nama tokoh dalam sebuah karya fiksi bukan sekedar asal tempel.
Sekalipun pada kehidupan orang dengan nama apa saja bisa jadi siapa saja, tapi dalam fiksi yang begitu singkat, nama harus mempermudah pembaca menyatu dengan kisah.
Coba rasakan tulisan ini.
Setiap kali gadis itu lewat, seluruh siswa selalu memandangnya. Dia bukan sekedar siswi di sekolah ini, tapi ia adalah bintang. Matanya, hidungnya, wajahnya, tingginya, seluruh yang ada pada dirinya adalah wujud kesempurnaan.
Tukiyem, siapapun yang bisa mencuri hatinya, dia adalah pemuda yang paling beruntung.
Bagaimana rasanya? Ada yang mengganjal?
Mungkin nama yang cocok Shinta, Devi, Ratu atau lainnya tapi Tukiyem kayaknya kok gak cocok ya?
Ada penjelasan logis?
Tidak ada tapi ya sudah begitu adanya.
Asma Nadia termasuk penulis yang sangat cermat memilih nama.
Saya sendiri sering salut begaimana penukis ini bisa memberi nama pada tokoh tokohnya, sehingga ketika tokoh itu dijadikan judul pun jadi wajar.
Misalnya:
Rahasia Mas Danu - di buku Sakinah Bersamamu
Cinta Begitu Senja - nama tokohnya wanitanya Senja (matahari terbenam) tokoh prianya Fajar (matahari terbit) - bahkan nama tokoh menggambarkan isinya.
Aisyah Putri - tokoh yang sangat digandrungi pembaca di awal tahun 2000-an (kini sedang di revisi).
Jadi pintar-pintar memilih nama tokoh karena berkaitan erat dengan ikatan hati pembaca pada tokoh.
Sumber : KBM Unknown Januari 03, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sekalipun pada kehidupan orang dengan nama apa saja bisa jadi siapa saja, tapi dalam fiksi yang begitu singkat, nama harus mempermudah pembaca menyatu dengan kisah.
Coba rasakan tulisan ini.
Setiap kali gadis itu lewat, seluruh siswa selalu memandangnya. Dia bukan sekedar siswi di sekolah ini, tapi ia adalah bintang. Matanya, hidungnya, wajahnya, tingginya, seluruh yang ada pada dirinya adalah wujud kesempurnaan.
Tukiyem, siapapun yang bisa mencuri hatinya, dia adalah pemuda yang paling beruntung.
Bagaimana rasanya? Ada yang mengganjal?
Mungkin nama yang cocok Shinta, Devi, Ratu atau lainnya tapi Tukiyem kayaknya kok gak cocok ya?
Ada penjelasan logis?
Tidak ada tapi ya sudah begitu adanya.
Asma Nadia termasuk penulis yang sangat cermat memilih nama.
Saya sendiri sering salut begaimana penukis ini bisa memberi nama pada tokoh tokohnya, sehingga ketika tokoh itu dijadikan judul pun jadi wajar.
Misalnya:
Rahasia Mas Danu - di buku Sakinah Bersamamu
Cinta Begitu Senja - nama tokohnya wanitanya Senja (matahari terbenam) tokoh prianya Fajar (matahari terbit) - bahkan nama tokoh menggambarkan isinya.
Aisyah Putri - tokoh yang sangat digandrungi pembaca di awal tahun 2000-an (kini sedang di revisi).
Jadi pintar-pintar memilih nama tokoh karena berkaitan erat dengan ikatan hati pembaca pada tokoh.
Sumber : KBM Unknown Januari 03, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Lima tahun lalu ketika Asma Nadia menjabat sebagai CEO satu penerbitan, ia berdebat cukup keras dengan pimpinan redaksi sebuah penerbitan besar yang merupakan induk dari perusahaan yang dipegangnya.Saat itu pimpinan redaksi yang sebenarnya secara hierarki adalah atasan, meminta Asma Nadia mengganti judul buku yang ditulis dan akan diterbitkannya.
Asma tidak mau mengubah judul buku tersebut dan berkata: "Boleh tidak saya berikeras, karena saya punya strong feeling about it!"
Singkatnya buku tersebut terbit dengan judul sesuai dengan keinginan Asma Nadia, dan meledak serta menjadi salah satu buku non fiksi terlaris saat itu.
Tahukah apa judul buku tersebut?
"Jangan Jadi Muslimah Nyebelin"
Tahukah kenapa awalnya judul ini ditolak?
Menurut pimpnan redaksi penerbitan besar tersebut, orang itu suka merefleksikan diri dengan sesuatu yang positif seperti "Muslimah Surga", dll. Orang tidak suka dengan merefleksikan dirinya dengan hal-hal negatif.
Tahukah kenapa Asma Nadia bersikeras?
It just feel right.
Akhirnya bagaimana?
Sebagai penulis Asma Nadia memaksa dan tidak mau judulnya diganti dan penerbit melihat isinya tetap punya daya jual sehingga akhirnya terpaksa penerbit menyetujui judul yang diajukan penulis (kadang penulis senior punya bargain tergantung posisi, kalau baru pemula lebih baik mengalah dulu paada penerbit)
Bagaimana akhirnya nasib buku dengan judul provokatif ini?
Buku initerjual dengan lars manis dan menjadi best seller. Bahkan buku ini terbit di Malaysia dengan bahasa Melayu.
Tahukan kenapa buku ini sukses?
Setelah dikaji, selain isinya yang bagus, ternyata judul buku ini bersifat "Provokatif" ini justru "Eye cathing" "Mengundang Rasa Tahu"- "Mengundang Rasa Penasaran" bahkan mungkin "Mengundang Rasa Marah"
Karena judulnya mengundang rasa ingin tahu, orang mau mendekat dan kemudian memegang dan membaca cover.
Setelah membaca cover, baru magis lain yang bekerja "Endorsemnet" ini dibahas berikutnya.
Setelah endorsemet baru isi buku yang bekerja. Isi yang bagus membuat orang mau merekomendasikan buku ini ke orang lain, bahkan menjadikan buku ini sebagai kado, baik kado pertemanan, kado ulang tahun, dll.
Jadi kunci sukses buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin kalau kita runtut:
- Judulnya Provokatif membuat orang mau tahu.
- Endorsement membuat orang jadi mau baca dan beli
- Isinya membuat orang menertawakan diri sendiri dan akhirnya menyadari kesalahan dan memperbaiki diri. Buku ini sangat powerful untuk salon kepribadian muslimah.
- Karena isinya membuat pembaca impresif, maka ia tidak segan segan merekomendasikan buku ini ke orang lain, dan menghadiahkan ke orang lain.
.
Kembali ke masalah judul.
Saya pernah membeli buku judulnya "Crazy Billionaire Speak." Di cover ada gambar Oprah, Bill Gates dan lainnya. Judulnya sangat menantang.
Lalu di atasnya ada tulisan "New York Times Best Seller" saya makin tertarik.
Singkat cerita saya beli. Ternyata setelah dibuka isinya hanyalah kumpulan quote dari para toko di atas, sesuatu yang bisa dengan mudah kita dapat di internet.
Kalau judulnya "Kumpulan Quote Tokoh Dunia" pasti saya tidak beli.
Berarti penerbit cermat mengemas Judul.
Ada juga buku
"Kalau Mau sukses, Jangan sekolah!" saya kira ini buku tentang orang yang pendidikannya rendah tapi sukses. Mungkin bagus buat tambahan data buku saya "No Excuse!"
Ternyata pas dibaca bukunya cuma biografi orang sukses dan sebagian besar juga sarjana. Tidak ada pemikiran sekolah sebagai penghambat sukses.
Tapi bagaimanapun judulnya sudah membuat saya membeli buku tersebut.
Ada juga buku "Mimpi 1 juta Dollar" saya mau tahu apa resepnya. Tapi sampai habis saya tidak tahu darimana si tokoh dapat uang 1 juta dolar itu.
Judul juduk tersebut cukup memperdayai saya untuk membeli sekalipun ternyata isinya tidak semanis judulnya.
Intinya judul sangat penting.
Judul akan sangat berpengaruh terhadap gerak pembaca.
Judul bisa membuat orang memutuskan untuk membaca atau tidak.
Judul bisa membuat orang ingin membeli buku atau tidak.
Kalau contoh di atas adalah judul yang provokatif, maka sebenarnya ada banyak kiat untuk membuat judul menarik, tidak cuma provokatif, ini cuma salah satu pendekatan saja.
Judul yang bagus di antaranya (dibahas lengkap di waktu lain):
- jangan terlalu panjang
- jangan terlalu pendek
- jangan membocorkan isi
- Membuat penasaran (memancing rasa ingin tahu)
- Frasenya tidak standar
- dll (sebenarnya di notes fan page Asma Nadia juga pernah dibahas).
Karena itu kalau mau karya kita dibaca, pikirkan judulnya sebelum dipublish.
(Keterangan tambahan: Sekarang buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, terbit dengan judul baru Salon Kepribadian - Sub Judul Jangan Jadi Muslimah nyebelin. Alasan pergantian judul karena teknis, buku lama diterbitkan penerbit berbeda, dengan harga lama sehingga sulit melakukan penyesuaian di komputer toko buku besar, jadi akhirnya terpaksa direvisi judulnya).
Sumber: fb: Komunitas Bisa Menulis (KBM) - Isa Alamsyah
Sumber ilustrasi : fixabay Unknown Januari 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Saat melakukan launching dua buku terbaru Asma Nadia “Jangan Jadi Muslimah Nyebelin (Salon Kepribadian)” terbitan Asma Nadia Publishing House dan “Sedekah Senyum” terbitan Buku Republika di panggung utama IBF 2013, penulis produktif ini mendapat pertanyaan yang mungkin mewakili sebagian besar anggota di Komunitas Bisa Menulis.
Pertanyaannya:
Mbak Asma Nadia, apa yang ada dipikiran juri atau redaksi ketika memutuskan sebuah karya bagus atau tidak, layak menang atau tidak, layak terbit atau tidak?
Berikut jawaban Asma Nadia (kurang lebihnya):
“Ketika juri atau redaksi menerima karya, maka yang lihat pertama kali adalah judul, opening dan ending.
Itu saja.
Kalau judul menarik, maka juri atau redaksi akan memberi waktu untuk melihat opening.
Kalau openingnya bagus maka mereka melanjutkan paragraph pertama dan keduanya atau sampai ketiga (belum semuanya).
Kalau openingnya biasa atau jelek mereka akan menganggap secara keseluruhan buruk dan tidak mau membuang waktu membaca lebih banyak.
Kalau paragraph pertama - kedua membuat mereka penasaran, mereka akan berusaha menebak, dan berpikir ending yang baik buat pad akarya tersebut, lalu langsung membaca ending.
Kalau ternyata endingnya tertebak maka akan masuk katagori tidak menarik.
Kalau ternyata endingnya menarik, mereka membaca kembali dari awal sampai akhir dan akhirnya memutuskan mana yang terbaik, mana yang layak menang atau diterbitkan”
Ya kira-kira begitulah jawabannya.
Asma Nadia menekankan tiga: judul, opening dan ending.
Kalau kita ikut lomba ada ratusan naskah bahkan ribuan naskah yang masuk.
Jadi tidak mungkin juri punya waktu untuk membaca semua. Untuk menseleksi mana yang layak dibaca full, maka tiga unsur itu yang menjadi indikasinya.
Karena itu kalau kita mau membuat karya menarik pikirkan tiga unsur di atas.
Salam.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Januari 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Pertanyaannya:
Mbak Asma Nadia, apa yang ada dipikiran juri atau redaksi ketika memutuskan sebuah karya bagus atau tidak, layak menang atau tidak, layak terbit atau tidak?
Berikut jawaban Asma Nadia (kurang lebihnya):
“Ketika juri atau redaksi menerima karya, maka yang lihat pertama kali adalah judul, opening dan ending.
Itu saja.
Kalau judul menarik, maka juri atau redaksi akan memberi waktu untuk melihat opening.
Kalau openingnya bagus maka mereka melanjutkan paragraph pertama dan keduanya atau sampai ketiga (belum semuanya).Kalau openingnya biasa atau jelek mereka akan menganggap secara keseluruhan buruk dan tidak mau membuang waktu membaca lebih banyak.
Kalau paragraph pertama - kedua membuat mereka penasaran, mereka akan berusaha menebak, dan berpikir ending yang baik buat pad akarya tersebut, lalu langsung membaca ending.
Kalau ternyata endingnya tertebak maka akan masuk katagori tidak menarik.
Kalau ternyata endingnya menarik, mereka membaca kembali dari awal sampai akhir dan akhirnya memutuskan mana yang terbaik, mana yang layak menang atau diterbitkan”
Ya kira-kira begitulah jawabannya.
Asma Nadia menekankan tiga: judul, opening dan ending.
Kalau kita ikut lomba ada ratusan naskah bahkan ribuan naskah yang masuk.
Jadi tidak mungkin juri punya waktu untuk membaca semua. Untuk menseleksi mana yang layak dibaca full, maka tiga unsur itu yang menjadi indikasinya.
Karena itu kalau kita mau membuat karya menarik pikirkan tiga unsur di atas.
Salam.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Januari 01, 2016 New Google SEO Bandung, Indonesia
Suatu saat Adam, bungsu kami datang kepada bundanya, Asma Nadia, dan berkata:
"Bunda, aku sedih. Karena aku, keluarga kita tidak kompak"
Sang Bunda cukup kaget dengan penyataan yang tiba-tiba dan tidak jelas ujung pangkalnya.
Belum sempat Bunda minta penjelasan, Adam langsung melanjutkan kalimatnya;
"Iya, Bunda penulis, Ayah penulis, Kak Salsa juga penulis, cuma aku saja yang bukan penulis. Aku ingin jadi penulis, Bunda."
Ya memang saat itu Adam belum punya buku, ada satu karyanya di antologi yang ditulisnya saat usia 6 tahunan, tapi setelah tidak ada lagi.
Tidak seperti terhadap kakaknya Salsa, kami (orangtua) kita tidak terlalu mengkader Adam untuk menulis karena dua alasan utama.
Pertama Adam terihat sangat bakat secara kinestetik. Main bola jago, bulu tangkis hebat, beladiri suka. Dia juga terampil di musik, main drum mantap, gitar jago, piano terampil dan main bass juga bisa. Minat game juga tinggi seperti kebanyakan anak sekarang. Tapi menulis, sama sekali tidak terlihat berminat.
Alasan kedua, karena ketika kecil ia menderita pendarahan otak. Kata dokter "stroke pada bayi". Setiap kali mengingat sejarah kesehatan tersebut, kami lebih berhati-hati dalam menstimulasi otak Adam. Jadi kami tidak melakukan stimulasi otak sebagaimana terhadap Salsa kakaknya.
Tapi memang Allah maha adil, Ia menjaga Adam. Ketika kami bertindak hati hati kepada Adam, ternyata Kakaknya Salsa karena sudah terlatih ekspresif dan kreatif, kakaknya selalu aktif berbicara dengan Adam, menemani dan mengajarinya baca tulis, hingga akhirnya pada diri Adam pun terbangun atmosfer suka baca dan kepenulisan.
Sekalipun pada Adam kami tidak mengajarkan tulis menulis se intensif pada Salsa, tapi ia sering ikut dalam seminar kepenulisan dan terkadang ia melihat kami bertiga di panggung dan ia sendirian di kursi peserta. Atau kadang ikut duduk berempat tapi tidak ada yang bertanya kepadanya karena dia buakn penulis.
Rupanya keadaan tersebut cukup mengganggu pikirannya. Ia sadar cuma dia yang tidak ditanya, cuma dia yang tidak menulis, sehingga akhirnya minta pada bundanya untuk dilatih menulis.
Sejak kejadian itu Bunda menemani Adam untuk menulis, membangun ide sampai akhirnya dalam 3 bulan bukunya pun rampung berjudul "Mostly Ghostly" tentang tiga dan mengungkap gosip hantu di sekitar mereka.
Cerita Adam juga menujukkan bahwa menjadi anak penulis bukan berarti bisa menulis. Buktinya Adam, setelah tulisan pertamanya butuh tujuh tahun untuk mempunyai buku, kareka saat itu kita orang tuanya 'lalai' mendidik nya.
Jadi sekalipun kami berdua penulis, jika kami tidak mendidik dan mengkader Adam, maka dia tidak jadi penulis juga.
Dalam kasus Adam, si anak yang meminta, karena terpancing atomosfer kepenulisan.
Untuk jadi penulis, harus dimulai dengan keputusan sendiri,
saya mau jadi penulis. Selanjutnya berlatih dan berlatih.
Bangun semangat menulis.
Hadiri acara kepenulisan.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
"Bunda, aku sedih. Karena aku, keluarga kita tidak kompak"
Sang Bunda cukup kaget dengan penyataan yang tiba-tiba dan tidak jelas ujung pangkalnya.
Belum sempat Bunda minta penjelasan, Adam langsung melanjutkan kalimatnya;
"Iya, Bunda penulis, Ayah penulis, Kak Salsa juga penulis, cuma aku saja yang bukan penulis. Aku ingin jadi penulis, Bunda."
Ya memang saat itu Adam belum punya buku, ada satu karyanya di antologi yang ditulisnya saat usia 6 tahunan, tapi setelah tidak ada lagi.
Tidak seperti terhadap kakaknya Salsa, kami (orangtua) kita tidak terlalu mengkader Adam untuk menulis karena dua alasan utama.
Pertama Adam terihat sangat bakat secara kinestetik. Main bola jago, bulu tangkis hebat, beladiri suka. Dia juga terampil di musik, main drum mantap, gitar jago, piano terampil dan main bass juga bisa. Minat game juga tinggi seperti kebanyakan anak sekarang. Tapi menulis, sama sekali tidak terlihat berminat.
Alasan kedua, karena ketika kecil ia menderita pendarahan otak. Kata dokter "stroke pada bayi". Setiap kali mengingat sejarah kesehatan tersebut, kami lebih berhati-hati dalam menstimulasi otak Adam. Jadi kami tidak melakukan stimulasi otak sebagaimana terhadap Salsa kakaknya.
Tapi memang Allah maha adil, Ia menjaga Adam. Ketika kami bertindak hati hati kepada Adam, ternyata Kakaknya Salsa karena sudah terlatih ekspresif dan kreatif, kakaknya selalu aktif berbicara dengan Adam, menemani dan mengajarinya baca tulis, hingga akhirnya pada diri Adam pun terbangun atmosfer suka baca dan kepenulisan.
Sekalipun pada Adam kami tidak mengajarkan tulis menulis se intensif pada Salsa, tapi ia sering ikut dalam seminar kepenulisan dan terkadang ia melihat kami bertiga di panggung dan ia sendirian di kursi peserta. Atau kadang ikut duduk berempat tapi tidak ada yang bertanya kepadanya karena dia buakn penulis.
Rupanya keadaan tersebut cukup mengganggu pikirannya. Ia sadar cuma dia yang tidak ditanya, cuma dia yang tidak menulis, sehingga akhirnya minta pada bundanya untuk dilatih menulis.
Sejak kejadian itu Bunda menemani Adam untuk menulis, membangun ide sampai akhirnya dalam 3 bulan bukunya pun rampung berjudul "Mostly Ghostly" tentang tiga dan mengungkap gosip hantu di sekitar mereka.
Cerita Adam juga menujukkan bahwa menjadi anak penulis bukan berarti bisa menulis. Buktinya Adam, setelah tulisan pertamanya butuh tujuh tahun untuk mempunyai buku, kareka saat itu kita orang tuanya 'lalai' mendidik nya.
Jadi sekalipun kami berdua penulis, jika kami tidak mendidik dan mengkader Adam, maka dia tidak jadi penulis juga.
Dalam kasus Adam, si anak yang meminta, karena terpancing atomosfer kepenulisan.
Untuk jadi penulis, harus dimulai dengan keputusan sendiri,
saya mau jadi penulis. Selanjutnya berlatih dan berlatih.
Bangun semangat menulis.
Hadiri acara kepenulisan.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Ketika menulis cerpen atau novel ada dua sudut pandang (point of view) yang paling lazim digunakan.
Pertama -aku (aku-an) atau -dia (dia-an = dia bisa juga nama)
Misalnya.
Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya (Sudut pandang aku-an).
Lelaki itu berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an).
Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an). Apa bedanya? Sama saja itu pilihan, tapi penggunaannya berbeda.
Ketika kita pakai aku-an maka imajinasi pengarang terbatas oleh keterbatasan aku.
Misalnya.
Kalimat 1
Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati aku. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu.
Kalimat 2
Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati Ryan. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu.
Pada kalimat 1 ada pelanggaran sudut pandang. Kalimat ---Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu--- ini tidak bisa dipakai karena tidak ada info darimana si aku tahu kalau lebih dari tiga kali. Informasinya bernilai 100% akurat padahal si aku tidak tahu. Aneh.
Pada kalimat 2 itu mungkin. ---Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu --- karena kalimat itu adalah sudut pandang penulis (yang bertindak sebagai tuhan atas cerita). Jadi penulis tahu semuanya tidak ada batasannya.
Narasi itu jadi milik penulis bukan milik Ryan.
Ketika kita pakai dia-an, kita bisa baca pikiran hati semua orang yang ada dalam kisah, sedangkan kalau pakai aku kita hanya tahu suara hati sendiri.
Dengan segala keterbatasannya, kenapa banyak penulis pakai aku?Karena aku membuat pembaca seperti berperan dalam cerita.
Intinya dua-duanya bisa dipakai ada kelebihan dan kekurangan.
Tinggal bagaimana kita bisa memakainya.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Pertama -aku (aku-an) atau -dia (dia-an = dia bisa juga nama)
Misalnya.
Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya (Sudut pandang aku-an).
Lelaki itu berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an).
Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an). Apa bedanya? Sama saja itu pilihan, tapi penggunaannya berbeda.
Ketika kita pakai aku-an maka imajinasi pengarang terbatas oleh keterbatasan aku.
Misalnya.
Kalimat 1
Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati aku. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu.
Kalimat 2
Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati Ryan. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu.
Pada kalimat 1 ada pelanggaran sudut pandang. Kalimat ---Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu--- ini tidak bisa dipakai karena tidak ada info darimana si aku tahu kalau lebih dari tiga kali. Informasinya bernilai 100% akurat padahal si aku tidak tahu. Aneh.
Pada kalimat 2 itu mungkin. ---Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu --- karena kalimat itu adalah sudut pandang penulis (yang bertindak sebagai tuhan atas cerita). Jadi penulis tahu semuanya tidak ada batasannya.
Narasi itu jadi milik penulis bukan milik Ryan.
Ketika kita pakai dia-an, kita bisa baca pikiran hati semua orang yang ada dalam kisah, sedangkan kalau pakai aku kita hanya tahu suara hati sendiri.
Dengan segala keterbatasannya, kenapa banyak penulis pakai aku?Karena aku membuat pembaca seperti berperan dalam cerita.
Intinya dua-duanya bisa dipakai ada kelebihan dan kekurangan.
Tinggal bagaimana kita bisa memakainya.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Dalam sebuah wawancara, Putri Salsa, penulis cilik yang sudah menulis 11 buku ketika masih sekolah di kelas 9 (3 SMP), ditanya oleh pewawancara.
"Salsa, gimana sih caranya kamu bisa membuat karakter dalam buku Cool Skool dan Best Friend Forever, konsisten. Tidak tertukar-tukar?"
Sedikit informasi, buku dan Best Friend Forever, adalah kisah series tentang persahabatan 3 anak SD, Niki, Kate dan Gen, yang mengalami banyak pengalaman yang menghebohkan. Karakter mereka jauh berbeda, satu kekanak-kanakan, satu tomboi dan satu lagi girly. Perbedaan sifat ini justru membuat persahabatan mereka karya warna.
Di kalangan anak-anak, buku ini merupakan salah satu favorit, bahkan Cool Skool adalah seri karya anak paling laris di jajaran (Kecil-Kecil Punya Karya, Kecil Kecil Jadi Penulis atau Penulis Cilik Punya Karya). Lebih dari itu, ada masa di mana, di antara semua buku Mizan group, buku tersebut menempati no. 2 terlaris setelah Laskar Pelangi.
Ok, kembali ke wawancara Salsa.
Saat itu, saya, yang sebenarnya hanya seorang ayah yang berada di sana sekedar mendampingi atau mengantarkan Salsa, belajar sesuatu dari jawaban Salsa.
Apa jawaban Salsa?
Apa rahasia Salsa, sehingga ia karakter yang ia ciptakan konsisten dan tidak tertukar?
Ini jawaban Salsa:
"Aku menghubungkan 3 karakater ku dengan karakter nyata. Misalnya setiap kali aku menggambarkan Kate aku membayangkan Demi Lovato, kalau aku menggambarkan Nikki aku bayangkan Selena Gomez dan kalau menulis tentang Gen aku bayangkan Taylor Swift."
Semua dari selebirti remaja yang sedang naik daun saat itu.
Ternyata itu rahasia Salsa.
Ia selalu menempelkan karakter di bukunya ke tokoh nyata dalam kehidupan.
Ketika pulang saya ceritakan jawaban cerdas Salsa tentang karakter ke bundanya Asma Nadia, dan ternyata Asma Nadia juga melakukan hal sama untuk karya-karyanya.
Ketika merancang seri Aisyah Putri, ketika menulis Vincent kakaknya Aisyah Putri, Asma Nadia mengingat karakter abang iparnya Doni yang punya keinginan hidup dengan infus jadi gak perlu habis waktu buat makan.
Ketika menulis karakter Windu, Asma juga mengingat karakter teman SMA-nya.
Ketika menggambarkan Eki, Asma juga mengingat teman SMA yang kebetulan namanya sama.
Walaupun buat Putri Salsa itu adalah trik yang muncul sendiri, ternyata metode yang ama dipakai bundanya dan bahkan juga diterapkan nyaris semua penulis pada saat tertentu (tidak selamanya).
JK Rowling menulis Ron diilhami dari temannya waktu kecil.
Penulis ini juga menemukan karakter Dermentor yang menghisap kebahagian terilhami perasan sendiri 'kebahagiaannya terhisap' ketika ibunya meninggal.
Jadi, salah satu cara, agar kita punya karakter yang konsisten, atau deskrisi yang konsisten akan lebih mudah jika kita menempelkan tokoh kita pada karakter asli (karakter manusia) dalam bayangan kita.
Bisa saja kita gabungkan dua karakter atau tiga karakter asli untuk satu tokoh di tulisan kita.
Selamat mencoba.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com
Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
"Salsa, gimana sih caranya kamu bisa membuat karakter dalam buku Cool Skool dan Best Friend Forever, konsisten. Tidak tertukar-tukar?"Sedikit informasi, buku dan Best Friend Forever, adalah kisah series tentang persahabatan 3 anak SD, Niki, Kate dan Gen, yang mengalami banyak pengalaman yang menghebohkan. Karakter mereka jauh berbeda, satu kekanak-kanakan, satu tomboi dan satu lagi girly. Perbedaan sifat ini justru membuat persahabatan mereka karya warna.
Di kalangan anak-anak, buku ini merupakan salah satu favorit, bahkan Cool Skool adalah seri karya anak paling laris di jajaran (Kecil-Kecil Punya Karya, Kecil Kecil Jadi Penulis atau Penulis Cilik Punya Karya). Lebih dari itu, ada masa di mana, di antara semua buku Mizan group, buku tersebut menempati no. 2 terlaris setelah Laskar Pelangi.
Ok, kembali ke wawancara Salsa.
Saat itu, saya, yang sebenarnya hanya seorang ayah yang berada di sana sekedar mendampingi atau mengantarkan Salsa, belajar sesuatu dari jawaban Salsa.
Apa jawaban Salsa?
Apa rahasia Salsa, sehingga ia karakter yang ia ciptakan konsisten dan tidak tertukar?
Ini jawaban Salsa:
"Aku menghubungkan 3 karakater ku dengan karakter nyata. Misalnya setiap kali aku menggambarkan Kate aku membayangkan Demi Lovato, kalau aku menggambarkan Nikki aku bayangkan Selena Gomez dan kalau menulis tentang Gen aku bayangkan Taylor Swift."
Semua dari selebirti remaja yang sedang naik daun saat itu.
Ternyata itu rahasia Salsa.
Ia selalu menempelkan karakter di bukunya ke tokoh nyata dalam kehidupan.
Ketika pulang saya ceritakan jawaban cerdas Salsa tentang karakter ke bundanya Asma Nadia, dan ternyata Asma Nadia juga melakukan hal sama untuk karya-karyanya.
Ketika merancang seri Aisyah Putri, ketika menulis Vincent kakaknya Aisyah Putri, Asma Nadia mengingat karakter abang iparnya Doni yang punya keinginan hidup dengan infus jadi gak perlu habis waktu buat makan.
Ketika menulis karakter Windu, Asma juga mengingat karakter teman SMA-nya.
Ketika menggambarkan Eki, Asma juga mengingat teman SMA yang kebetulan namanya sama.
Walaupun buat Putri Salsa itu adalah trik yang muncul sendiri, ternyata metode yang ama dipakai bundanya dan bahkan juga diterapkan nyaris semua penulis pada saat tertentu (tidak selamanya).
JK Rowling menulis Ron diilhami dari temannya waktu kecil.
Penulis ini juga menemukan karakter Dermentor yang menghisap kebahagian terilhami perasan sendiri 'kebahagiaannya terhisap' ketika ibunya meninggal.
Jadi, salah satu cara, agar kita punya karakter yang konsisten, atau deskrisi yang konsisten akan lebih mudah jika kita menempelkan tokoh kita pada karakter asli (karakter manusia) dalam bayangan kita.
Bisa saja kita gabungkan dua karakter atau tiga karakter asli untuk satu tokoh di tulisan kita.
Selamat mencoba.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com
Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Bercerita itu adalah kemampuan menemukan potongan terbaik sebuah peristiwa yang menarik bagi pembaca, pendengar atau penonton.
Contohnya seperti ini.
Kamu mengalami peristiwa penyanderaan di bis ketika menuju sekolah. Saat itu ada perampok yang dikejar polisi dan lari masuk bus dan menyandera seluruh penumpang termasuk kamu. Singkat cerita akhirnya kamu berhasil dibebaskan juga seluruh penumpang. Cukup seru kan pengalamannya?
Lalu kamu sampai di sekolah dan bercerita pada teman-teman.
“Eh tadi ada penyanderaan di bis gue?”
Mendengar itu teman-teman kamu antusias dan mengerubungi kamu tak sabar mendengar cerita.
Lalu kamu pun memulai cerita seperti ini.
“Tadi gue naik bisa menuju sekolah. Gue memang selalu naik bisa ke sekolah karena bayarannya murah. Waktu nunggu bis, bis pertama penuh dan bis kedua juga penuh akhirnya gue naik bisa ketiga. Nah bis ketiga itu sebenarnya juga penuh, tapi masi mending dibanding pertama kedua. Di depan ada nenek nenek duduk dengan kakek-kakek, kayaknya sih suami istri. Hebat juga ya mereka sudah menikah lama masih berdampingan. Lalu di belangkangnya ada empat deret kursi yang diduduki anak-anak sekolah. Sempat mereka digerutui kondektur karena pada duduk manis padahal bayarnya setengah. Terus yang duduk di sebelah kanan…..”
Sudah 15 menit berlalu dan kamu masih berkutat di bagaian yang sama sekali tidak dipedulikan teman-temanmu. Padahal kamu baru masuk ke bagian yang seru.
Jika kamu bercerita seperti ini, apa yang akan terjadi?
Mereka akan pergi karena ceritamu membosankan.
Mereka menunggu inti cerita tapi tidak samapai-sampai lalu bel bernbunyi dan mereka masuk ke kelas dan tidak peduli lagi pada kisahmu.
Bandingkan jika kamu bercerita langsung seperti ini
“Tadi waktu gue naik bis, ada perampok masuk dan langsung menyandera semua penumpang, termasuk gue. Perampoknya ada empat. Satu pakai clurit, satu golok dan dua pakai pistol. Di luar polisi udang mengepung. Sialnya yang pakai clurit panic dan ngalungin clurit ke leher gue, nih lihat bekasnya.” (sambil menunjukkan bekas merah di leher).
Itu adalah contoh dramatis, betapa seorang tidak mampu memilih mana bagian dari peristiwa yang menarik untuk di dengar atau dilihat.
Kemampuan memilih bagian yang penting dalam cerita merupakan kemampuan penting dalam bercerita.
Nah kamu sering kan baca cerita yang di awalnya di awali angin berhembus, cuaca, dan berbagai hal yang bertele-tele.
Kalau sekedar variasi gak apa, kalau kebanyakan bahaya.
Saya dan istri (asma Nadia) serta anak-anak (Adam dan Putri Salsa) punya peraturan, namanya “30 menit pertama”. Kalau nonton film sudah 30 menit dan belum ada yang menarik kita keluar dari bioskop atau matikan DVD.
Karena 30 menit pertama cukup menggambarkan fiml akan bagus atau tidak. Daripada kehilangan waktu 2 jam lebih baik mengorbankan 30 menit.
Dalam cerpen juga begitu , kalau dua tiga paragraf pertama tidak menarik, cerpen akan diabaikan.
Novel juga begitu, jika satu dua bab pertama tidak menarik, akan dilupakan.
Jadi temukan potongan terbaik dari sebuah peristiwa dan jadikan itu sebagai cerita.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia
Contohnya seperti ini.
Kamu mengalami peristiwa penyanderaan di bis ketika menuju sekolah. Saat itu ada perampok yang dikejar polisi dan lari masuk bus dan menyandera seluruh penumpang termasuk kamu. Singkat cerita akhirnya kamu berhasil dibebaskan juga seluruh penumpang. Cukup seru kan pengalamannya?
Lalu kamu sampai di sekolah dan bercerita pada teman-teman.
“Eh tadi ada penyanderaan di bis gue?”
Mendengar itu teman-teman kamu antusias dan mengerubungi kamu tak sabar mendengar cerita.
Lalu kamu pun memulai cerita seperti ini.
“Tadi gue naik bisa menuju sekolah. Gue memang selalu naik bisa ke sekolah karena bayarannya murah. Waktu nunggu bis, bis pertama penuh dan bis kedua juga penuh akhirnya gue naik bisa ketiga. Nah bis ketiga itu sebenarnya juga penuh, tapi masi mending dibanding pertama kedua. Di depan ada nenek nenek duduk dengan kakek-kakek, kayaknya sih suami istri. Hebat juga ya mereka sudah menikah lama masih berdampingan. Lalu di belangkangnya ada empat deret kursi yang diduduki anak-anak sekolah. Sempat mereka digerutui kondektur karena pada duduk manis padahal bayarnya setengah. Terus yang duduk di sebelah kanan…..”Sudah 15 menit berlalu dan kamu masih berkutat di bagaian yang sama sekali tidak dipedulikan teman-temanmu. Padahal kamu baru masuk ke bagian yang seru.
Jika kamu bercerita seperti ini, apa yang akan terjadi?
Mereka akan pergi karena ceritamu membosankan.
Mereka menunggu inti cerita tapi tidak samapai-sampai lalu bel bernbunyi dan mereka masuk ke kelas dan tidak peduli lagi pada kisahmu.
Bandingkan jika kamu bercerita langsung seperti ini
“Tadi waktu gue naik bis, ada perampok masuk dan langsung menyandera semua penumpang, termasuk gue. Perampoknya ada empat. Satu pakai clurit, satu golok dan dua pakai pistol. Di luar polisi udang mengepung. Sialnya yang pakai clurit panic dan ngalungin clurit ke leher gue, nih lihat bekasnya.” (sambil menunjukkan bekas merah di leher).
Itu adalah contoh dramatis, betapa seorang tidak mampu memilih mana bagian dari peristiwa yang menarik untuk di dengar atau dilihat.
Kemampuan memilih bagian yang penting dalam cerita merupakan kemampuan penting dalam bercerita.
Nah kamu sering kan baca cerita yang di awalnya di awali angin berhembus, cuaca, dan berbagai hal yang bertele-tele.
Kalau sekedar variasi gak apa, kalau kebanyakan bahaya.
Saya dan istri (asma Nadia) serta anak-anak (Adam dan Putri Salsa) punya peraturan, namanya “30 menit pertama”. Kalau nonton film sudah 30 menit dan belum ada yang menarik kita keluar dari bioskop atau matikan DVD.
Karena 30 menit pertama cukup menggambarkan fiml akan bagus atau tidak. Daripada kehilangan waktu 2 jam lebih baik mengorbankan 30 menit.
Dalam cerpen juga begitu , kalau dua tiga paragraf pertama tidak menarik, cerpen akan diabaikan.
Novel juga begitu, jika satu dua bab pertama tidak menarik, akan dilupakan.
Jadi temukan potongan terbaik dari sebuah peristiwa dan jadikan itu sebagai cerita.
Sumber artikel: fb KBM (Komunitas Bisa Menulis), oleh Isa Alamsyah
Sumber gambar : fixabay.com Unknown Desember 30, 2015 New Google SEO Bandung, Indonesia











